#kesehatan#dbd#lamtim

35 Warga Lamtim Terserang DBD dalam 1,5 Bulan

35 Warga Lamtim Terserang DBD dalam 1,5 Bulan
Ilustrasi DBD : Istimewa


Sukadana (Lampost.co) -- Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Lampung Timur dalam satu setengah bulan terakhir tercatat 35 orang yang terserang penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Masyarakat diminta untuk waspada mengingat saat ini memasuki puncak musin hujan. 

Kepala Dinas Kesehatan Lamtim, Nanang Salman, menjelaskan saat ini Lamtim sudah masuk pada puncak musim hujan. Kondisi itu menyebabkan cuaca lembap serta banyak genangan air di sekitar lingkungan tempat tinggal warga.

"Kondisi cuaca dan lingkungan itu sangat mendukung berkembang biaknya nyamuk penular penyakit DBD yaitu Aedes aegypty. Perkembangan nyamuk tersebut juga beriringan dengan berkembangnya serangan penyakit DBD terhadap warga," ujarnya, Rabu, 15 Desember 2021.

Dia menjelaskan dalam kurun waktu 1,5 bulan terakhir atau sejak November hingga pertengahan Desember 2021 ini, tercatat 35 warga Lamtim yang terserang DBD. 

"Ke-35 warga Lamtim yang terserang DBD tersebut, 25 orang terserang DBD pada November 2021 dan 10 lagi pada 1 hingga 15 Desember 2021," katanya.

Baca juga: Kasus Masih Rendah, Warga Lamtim Tetap Waspadai Penyakit DBD

Dia memerinci ke-35 warga Lamtim yang terserang DBD, pada November 2021 itu tersebar di Kecamatan Purbolinggo sejumlah 13 orang, Sekampung (4), dan Batanghari Nuban (3). Sementara di Kecamatan Margatiga dan Raman Utara masing-masing dua orang dan Pekalongan (1).

Kemudian 10 warga yang terserang DBD sejak 1 hingga 15 Desember 2021 tersebar di Kecamatan Purbolinggo sejumlah tiga orang, kemudian Pekalongan, Sekampung, dan Batanghari masing-masing dua orang. Satu lagi terjadi di Kecamatan Pasirsakti.

Dinkes meminta dan mengimbau warga agar waspada terhadap serangan penyakit DBD. Langkah kewaspadaan warga tersebut dengan aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M plus. Warga harus rajin menguras tempat yang sering menjadi penampungan air seperti bak mandi, kendi, tower air, drum, dan tempat penampungan air lainnya. 

Kemudian menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi maupun drum. Selain itu, mengubur barang bekas di dalam tanah agar tidak membuat lingkungan semakin kotor dan dapat berpotensi menjadi sarang nyamuk.

"Warga juga bisa memanfaatkan kembali limbah barang bekas bernilai ekonomis (daur ulang) yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk demam berdarah," ujarnya.

Untuk plusnya adalah bantuk upaya pencegahan, di antaranya memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan obat antinyamuk, dan memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi. Kemudian bergotong royong membersihkan lingkungan, meletakkan pakaian bekas pakai dalam wadah tertutup, dan lain-lain.

Sementara untuk membantu warga mengantisipasi dan mencegah penularan penyakit DBD, selain sosialisasi rutin serta penyelidikan epidemiologi pihaknya juga melakukan penyemprotan atau fogging focus di lokasi daerah penularan.

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait