#covid-19#pesantren#klasterbaru

35 Santri Positif Covid-19, Satu Pesantren di Cianjur Jadi Klaster Baru

35 Santri Positif Covid-19, Satu Pesantren di Cianjur Jadi Klaster Baru
Ilustrasi Medcom.id


Cianjur (Lampost.co) -- Salah satu pesantren di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menjadi klaster baru Covid-19 setelah 35 santrinya positif terpapar virus korona. Puluhan santri saat ini sedang menjalani isolasi mandiri khusus di lingkungan pesantren di bawah pengawasan ketat Satuan Tugas Covid-19 dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur.

Juru bicara Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Cianjur, Yusman Faisal, mengatakan dari hasil pendataan sementara 35 santri terkonfirmasi positif Covid-19. Kondisi itu juga membuat level kewaspadaan Covid-19 di Kabupaten Cianjur sempat berubah menjadi zona oranye.

"Zonasi kewaspadaan di Cianjur memang masih risiko rendah. Tetapi pada 19 Oktober ini sudah berubah menjadi oranye. Artinya, di Kabupaten Cianjur sudah terdapat klaster penyebaran Covid-19 di pesantren," ujar Yusman, Rabu, 4 November 2020. 

Dia memprediksi jumlah angka santri yang terkonfirmasi positif Covid-19 di salah satu pesantren itu bisa bertambah. Dalihnya, belum seluruh santri menjalani pemeriksaan.

"Temuan adanya klaster di pesantren setelah kami lakukan swab test. Tapi sekarang santri yang dinyatakan positif Covid-19 sudah kami tangani dengan baik," ujarnya.

Dia menjelaskan semestinya puluhan santri yang terkonfirmasi positif Covid-19 itu diisolasi di pusat isolasi yang disiapkan Pemkab Cianjur di Vila Bumi Ciherang, Kecamatan Pacet. Namun, karena keterbatasan ruangan dan tempat tidur, dipilih opsi isolasi mandiri secara khusus di lingkungan pesantren.

"Bagi santri yang dinyatakan negatif, kami berinisiatif memulangkan mereka sementara waktu ke orang tuanya. Ini untuk mencegah penyebaran Covid-19 lebih meluas," katanya.

Yusman menduga puluhan santri itu terpapar Covid-19 dari orang di luar pesantren. Satgas Covid-19 Kabupaten Cianjur masih terus melakukan pelacakan dan penelusuran. "Harus kita cegah dengan cepat agar penyebarannya tidak meluas," ujarnya. 

EDITOR

Medcom

loading...




Komentar


Berita Terkait