#manchesterunited

3 Alasan 2022 Bisa Jadi Musim Terburuk Cristiano Ronaldo

3 Alasan 2022 Bisa Jadi Musim Terburuk Cristiano Ronaldo
Cristiano Ronaldo. AFP/Nigel Roddis


Manchester (Lampost.co) -- Bursa transfer musim panas 2022 -- 2023 resmi ditutup pada 1 September kemarin. Fakta itu tentunya mengecewakan bagi Cristiano Ronaldo yang gagal merealisasikan keinginannya meninggalkan Old Trafford.

Dianggap sebagai salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa, pengoleksi lima trofi Ballon d'Or itu tampaknya tidak nyaman dengan fakta MU musim ini tidak akan tampil di Liga Champions. Ronaldo yang masih ingin berbicara banyak di kompetisi paling elite itu, kemudian melihat kemungkinan pindah klub dan bermain untuk klub yang berlaga di Liga Champions.

Beberapa klub sempat dikaitkan dengan Ronaldo. Mulai dari Bayern Munich, Altletico Madrid hingga Chelsea dikabarkan tertarik untuk menggunakan servis pemain 37 tahun tersebut. Sayangnya, taka da negosiasi yang berujung dengan kata deal.

Teanyar, jelang penutupan bursa transfer, Ronaldo meminta kepada agennya Jorge Mendes untuk melakukan pendekatan intens kepada Napoli yang kebetulan bermain di Liga Champions musim ini. Sialnya, kesepakatan juga gagal tercapai hingga jendela transfer resmi ditutup. 

Ronaldo kini tentunya dalam posisi sulit. Pernyataan dia yang secara terang-terangan ingin hengkang dari MU tentunya akan berdampak pada kepercayaan yang akan diberikan pelatih, rekan setim dan pendukung. Hal ini berpotensi membuat Ronaldo akan menjalani salah satu musim tersulit dalam kariernya, bahkan bisa jadi yang terburuk. 

Baca juga: Ronaldo dan Messi Memburu Rekor di Piala Dunia 2022

Berikut 3 alasan mengapa musim ini bisa jadi musim terburuk buat Cristiano Ronaldo:

1. Tidak Cocok dengan Gaya Main MU Saat Ini

Sejak kedatangannya, Erik Ten Hag menuntut para pemain untuk bekerja ekstra keras karena gaya bermain yang akan diterapkannya high pressing di mana setiap pemain, bahkan seorang striker harus memberikan tekanan kepada lawan mulai di kotak penalti mereka.

Gaya bermain ini yang kemungkinan tidak cocok dengan Ronaldo. Selain karena usianya saat ini sudah 37 tahun, Ronaldo juga tidak bisa bermain dalam filosofi tersebut ketika MU ditangani Ralf Rangnick yang juga menuntut para pemain melakukan pressing dengan garis yang tinggi.

Di era Rangnick, Ronaldo masih tetap mampu menunjukkan ketajamannya meski secara permainan ia tidak bisa menjalankan instruksi pelatih asal Jerman itu dengan benar. Ronaldo masih mampu mencetak 18 gol dan jadi top skore MU di Liga Primer Inggris musim lalu.

Namun, pada musim ini situasinya berbeda dengan musim lalu. Ten Hag memiliki banyak opsi pemain yang bisa diturunkan untuk mendukung gaya bermainnya tersebut. Di lini depan, MU saat ini memiliki banyak pemain muda potensial seperti Marcus Rashford, Jadon Sancho, Anthony Martial dan yang teranyar Antony.

Kondisi ini tentunya membuat Ten Hag tidak memiliki kewajiban untuk memainkan Ronaldo karena ia punya pemain lain yang bisa menjalankan skemanya. Hal ini bisa dilihat dari statistik pada awal musim ini di mana Ronaldo hanya satu kali bermain sebagai starter dalam enam laga yang dimainkannya. Apesnya, ketika ia tampil sebagai starter, MU justru dibantai tim semenjana, Brentford.

Di sisi lain, ketika Ronaldo tidak bermain sebagai starter, MU justru mampu meraih hasil apik. Kemenangan 2-1 atas Liverpool dan 3-1 atas Arsenal menjadi bukti bahwa MU tidak lagi membutuhkan 'bantuan' Ronaldo di musim ini.

2. Kurangnya Motivasi karena Tidak Tampil di Liga Champions

Dikenal sebagai Tuan Liga Champions, Ronaldo harus menerima pil pahit akan kehilangan kompetisi elite Eropa itu untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan Manchester United pada tahun 2003. Ia kini harus menerima fakta bermain di kompetisi kasta kedua, Liga Europa.

Masalahnya di sini Ronaldo adalah individu yang sangat kompetitif. Salah satu alasannya ingin hengkang dari MU musim ini salah satunya adalah faktor Liga Champions. Di usianya yang mendekati akhir kariernya, Ronaldo masih ingin membuktikan diri bahwa ia masih eksis di kompetisi tertinggi.

Untuk itu, dengan fakta MU hanya bermain di kompetisi Liga Europa musim ini, motivasi Ronaldo kemungkinan tidak akan sama dengan ketika MU bermain di Liga Champions. Hal itu berpotensi membuat Ronaldo mengalami penurunan performa.

3. Tak Lagi Dapat Dukungan Rekan Setim dan Suporter

Musim lalu, Ronaldo mendapat sambutan hangat baik dari rekan setim maupun suporter yang senang melihatnya kembali ke Old Trafford. Ia mendapat dukungan penuh dari rekan setimnya di lapangan sehingga sukses melesakkan 18 gol di musim lalu.

Namun, musim ini kondisinya berbeda. Ronaldo justru dilaporkan kerap berselisih dengan beberapa pemain karena sikap dan komitmennya. Selain ingin tampil di Liga Champions, Ronaldo disebut-sebut tidak percaya dengan kualitas rekan setimnya sehingga ingin pergi dari Old Trafford. 

Tak hanya hubungan yang tidak harmonis dengan rekan setim, Ronaldo juga kabarnya tidak lagi mendapatkan apresiasi dari para pendukung. Mereka kecewa dengan sikap Ronaldo yang seakan tidak menghormati klub yang membesarkan namanya.

Dalam suatu momen usai MU kalah 0-4 dari Brentford, Steve McClaren selaku asisten Erik Ten Hag terlihat meminta Ronaldo untuk memberi aplaus kepada para penggemar yang datang ke markas Brentford. Namun, Ronaldo memilih untuk mengabaikannya dan pergi. Hal ini jelas tidak menempatkan situasinya di klub dalam posisi yang baik.

Kesimpulannya, dengan berbagai drama yang dihadirkannya sepanjang bursa transfer musim panas ini, Cristiano Ronaldo saat ini tidak lagi dilihat sebagai sosok pemain yang pantas jadi panutan bagi pemain dan juga pendukung.

Jadi, besar kemungkinan sepanjang musim ini Ronaldo akan lebih banyak menghabiskan waktunya duduk di bangku cadangan, atau hanya berperan sebagai cameo. Paling realistis apabila Ronaldo ingin menyelamatkan kariernya di musim ini adalah mencari klub baru di bursa transfer musim dingin, Januari nanti.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar