#demopenolakanomnibuslaw#unjukrasa#korbanluka

26 Luka dan 11 Orang Ditahan Buntut Kericuhan di Depan DPRD Lampung

( kata)
26 Luka dan 11 Orang Ditahan Buntut Kericuhan di Depan DPRD Lampung
Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad.Lampost.co/Asrul Septian Malik


Bandar Lapung (Lampost.co) -- Unjuk rasa penolakan Omnibus Law UU Cipta Karya di sekitar kantor DPRD Lampung sepanjang Rabu pagi hingga malam hari, 7 Oktober 2020, berunjung ricuh. Puluhan pendemo dan beberapa polisi terluka.

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad memaparkan 26 pengunjuk rasa terluka. Enam di antaranya masih dirawat di Rumah Sakit A. Dadi Tjojkro Dipo, RS Bumiwaras, dan RS Bhayangkara Polda Lampung.

Selain pengunjuk rasa, 11 polisi dan seorang tentara ikut terluka. "Korban luka kebanyakan akibat terinjak setelah aparat melepaskan gas air mata," kata Pandra di depan balai Keratun Pemprov Lampung, Rabu malam, 7 Oktober 2020.

Pandra juga menepis adanya isu pendemo yang meninggal. "Itu hoaks, tidak benar," katanya 

Berita terkait: Kata Kapolda Terkait 7 Orang yang Diamankan saat Demo Penolakan UU Ciptaker

Pascarusuhtersebut, aparat juga mengamankan 11 orang dari unsur pelajar SMK, mahasiswa, dan warga. "Mereka yang diamankan ada yang membawa kayu, batu, kayu, dan juga bahan bakar yang sudah disiapkan dalam kantong plastik, ini yang kami cukup prihatin," ujarnya.

Namun, Pandra belum bisa memaparkan peran dari ke-11 orang yang diamankan tersebut. "Berdasarkan KUHAP, pemeriksaan secara intensif dilakukan 1 x 24 jam," katanya.

Kronologi aksi hingga ricuh

Pandra menjelaskan awalnya gabungan mahasiswa menyampaikan penolakan omnibus law ke DPRD Lampung, Rabu, 7 Oktober 2020. Jumlah personel Polri/TNI yang diturunkan sekitar 1.050, sementara jumlah peserta aksi secara bertahap, menurut Pandra, mencapai sekitar 1.100 orang.

"Aspirasi diterima Ketua DPRD Lampung Mingrum Gumay dan enam anggota Dewan lainnya serta Sekprov Lampung Fahrizal Darminto," ujarnya.

Namun, kemudian mengalami deadlock karena mahasiswa meminta semua anggota DPRD Lampung hadir. Kemudian, sekitar pukul 16.20 para mahasiswa dan pengunjuk rasa menyampaikan kembali orasinya di Pemprov Lampung dan selanjutnya terjadi pelemparan yang dilakukan sebagian pengunjuk rasa.

"Kami sampaikan secara persuasif dan humanis karena juga jangan sampai ada potensi penyebaran Covid," katanya.

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...




Komentar


Berita Terkait