#kekerasanseksual#pelecehanseksual#anak

196 Anak di Lampung Jadi Korban Kekerasan Seksual Sepanjang 2021

196 Anak di Lampung Jadi Korban Kekerasan Seksual Sepanjang 2021
Ilustrasi. Medcom.id/Mohamad Rizal


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  (PPPA) Provinsi Lampung, Fitrianita Damhuri menyebut sebanyak 177 kasus dan 196 korban kekerasan seksual terjadi di Lampung sepanjang 2021.

"Kekerasan anak tercatat cukup tinggi. Namun kami tetap melakukan berbagai upaya dalam mencegah munculnya kekerasan seksual pada anak," ujarnya, Senin, 7 Juni 2021. 

Fitrianita menjelaskan, keseluruhan jumlah kasus tersebut tersebar di 15 kabupaten/kota di Lampung. Lampung Barat sebanuak 4 kasus, Tanggamus (7), Lampung Selatan (21), Lampung Timur (16), Lampung Tengah (10), Lampung Utara (7), Way Kanan (10), Tulangbawang (14), Bandar Lampung (40), Metro (5), Pringsewu (14), Mesuji (2), Pesawaran (8), Tulangbawang Barat (14), dan Pesisir Barat (5).

Baca: Polisi Proses Laporan Belasan Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual

 

"Kebanyakan kasus ini terjadi di rumah tangga dengan total 117 kasus. Kemudian terjadi di fasilitas umum 28 kasus, di tempat kerja 2 kasus, sekolah 8 kasus, dan lainnya 22 kasus," paparnya. 

Dari total 196 korban, sebanyak  28 korban merupakan laki-laki dan 168 perempuan. Kebanyakan kasus ditemukan korban rumah tangga sebanyak 124 korban.

Kemudian yang ditemukan di tempat kerja sebanyak 2 korban, sekolah (8), fasilitas umum (37), dan lainnya (25). Jenis kekerasan yang kerap dialami korban adalah kekerasan seksual, menyusul kekerasan fisik, dan kekerasan psikis.

"Berdasarkan kelompok umur, untuk korban laki-laki sebanyak 60,7 persen di usia 6 sampai 12 tahun. Sementara untuk korban perempuan, berdasarkan usia didominasi usia 13 sampai 17 tahun dengan total persentase 40,2 persen," ujarnya. 

Dari jumlah umur tersebut, jenis pendidikan baik korban laki-laki maupun perempuan kebanyakan berada di rentang pendidikan sekolah dasar (SD).

"Sepanjang pandemi covid-19 peningkatan kasus terus terjadi. Tapi sisi positifnya, ketika ada peningkatan kasus maka bisa dilihat sisi positif masyarakat berani melapor," katanya. 

Ia mengimbau agar keluarga dapat menjadi pengawas dalam tumbuh kembang anak.

"Jangan sampai peran keluarga terutama orang tua tidak ada dalam pertumbuhan anak. Ini akan sangat menjadikan traumatik jika tak ada perlindungan keluarga," jelasnya.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait