#penganiayaan

12.938 Anak Jadi Korban Kekerasan, Kasus di Sekolah Disoroti

12.938 Anak Jadi Korban Kekerasan, Kasus di Sekolah Disoroti
Kekerasan terhadap anak. Ilustrasi


Jakarta (Lqmpost.co) -- Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) melaporkan 12.938 anak menjadi korban kekerasan selama periode Januari-Oktober 2021. Sebanyak 2,55% kasus kekerasan dilakukan oleh guru di sekolah. 

Meskipun angkanya tidak terlalu tinggi, Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Nahar, mengungkapkan kekerasan di sekolah perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak. 

“Kami dari Kemen PPPA tidak mentoleransi segala bentuk tindak kekerasan terhadap anak dimana pun, termasuk di lingkungan sekolah. Kami juga menyayangkan kekerasan yang terjadi seringkali dilakukan dengan dalih mendisiplinkan anak atas kesalahan yang dilakukan,” ujar Nahar dalam keterangan resmi, Rabu, 24 November 2021. 

Padahal, Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dimana anak di dalam dan di lingkungan sekolah, wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain. 

Salah satu kasus yang sedang mencuat saat ini dugaan tindakan kekerasan dan pemenjaraan oknum pendidik kepada anak didik di sebuah SMK di Batam. 

Kemen PPPA, kata Nahar, akan terus memantau dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, khususnya Pemerintah Daerah Kota Batam dan Provinsi Kepulauan Riau terkait proses hukum dan pendampingan anak-anak korban. 

Kasus tersebut, menjadi salah satu contoh kasus kekerasan terhadap anak di sekolah perlu mendapat perhatian khusus, karena berdasarkan informasi yang diterima dari Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kota Batam beberapa anak korban mengalami trauma dan membutuhkan penanganan profesional. 

“Kami juga memberikan apresiasi atas respon cepat Direskrimum Polda Kepri dalam menanggapi pengaduan dari orang tua korban. Harapannya, Pemerintah Daerah setempat dalam hal ini Dinas yang Membidangi Urusan Perlindungan Anak dapat mengawal kasus ini sehingga anak dapat terlayani secara komprehensif,” ungkap Nahar. 

Selain itu, koordinasi dengan dinas terkait juga penting dilakukan agar pemenuhan hak anak tetap bisa terpenuhi, khususnya hak atas pendidikan.

Selanjutnya, jika terbukti oknum tenaga pendidik di sebuah SMK di Batam melakukan tindakan kekerasan terhadap anak, maka dapat diancam hukuman pidana berlapis, sebagaimana diatur dalam Pasal 76C jo Pasal 80 UU 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak; Pasal 351 ayat 2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP); atau Pasal 354 KUHP, yang ancaman hukuman penjaranya di atas 5 tahun, serta hukuman pemberhentian pelaku dengan tidak hormat (PTH) dari instansinya. 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait