razianarkoba

10 Orang Positif Narkoba saat Razia di Tempat Hiburan Malam 

( kata)
10 Orang Positif Narkoba saat Razia di Tempat Hiburan Malam 
Razia tempat hiburan malam. dok


 

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung, kembali melakukan razia tempat hiburan malam di Bandar Lampung.

Razia dilakukan pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari 19-20 September 2020. Razia dilakukan dalam rangka mencegah peredara narkoba. Razia yang dilakukan BNNP juga membawa anjing pelacak (k-9) dan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Petugas merazia tempat hiburan malam yang berada di wilayah Bumi Waras dan Telukbetung Selatan, seperti tempat karaoke S, T, ND hingga Cafe SB. Pengujung, karyawan hingga manajer tempat hiburan malam pun tak luput dari pemeriksaan.

Setidaknya, pada razia dini hari tadi 10 orang urinenya dinyatakan positif. Namun BNNP Lampung tidak menemukan adanya narkoba di pengunjung ataupun tempat hiburan malam yang terjaring razia.

Pada karaoke S, BNNP mengamankan dua orang, sementara di tempat karaoke AV dua orang karyawan, dan karaoke T juga dua orang. Sedangkan di karaoke ND nihil. Kemudian, di Cafe SB, 4 orang urine nya dinyatakan positif.

Kepala BNNP Lampung Brigjenpol I Wayan Sukawinaya membenarkan razia tersebut.

"Kami terus berupaya tekan angka peredaran narkoba, khusunya potensi peredaran di tempat hiburan malam. Paling tidak dengan kehadiran petugas mampu atau dapat mengurangi niat bagi mereka yang ingin menggunakan narkoba. Mudah-mudahan dengan kegiatan yang kita lakukan seperti ini akan menyadarkan dan juga akan memberikan pengetahuan buat mereka untuk tidak menggunakan narkoba," ujarnya Minggu 20 September 2020.

Mantan Dirintelkam Polda Bali itu menambahkan, pihaknya masih menggali keterangan dari para warga yang urine nya dinyatakan positif.

"454 Tim Asesmen Terpadu (TAT) untuk mengetahui sejauh mana penggunaan narkoba, sudah berapa lama, dari segi kesehatannya. Nanti di TAT dari segi hukum akan menggali keterangan masuk jaringan narkoba apa tidak," paparnya.

Ia belum bisa memaparkan secara rinci, apakah yang terjaring hanya pengguna, atau ada keterkaitan dengan peredaran hingga jaringan.

"Kalau pengguna kami arahkan rehab, kalau jaringan, atau pengedar bisa kita kembangkan dan proses (pidana)," paparnya.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...


Berita Terkait



Komentar