#israel#palestina

10 Anak dan 1 Dokter Tewas dalam Serangan Terbaru Israel

10 Anak dan 1 Dokter Tewas dalam Serangan Terbaru Israel
Warga memeriksa rumah mereka yang hancur terkena serangan udara Israel di Rafah, Jalur Gaza pada 16 Mei 2021 (SAID KHATIB / AFP)


Gaza (Lampost.co) -- Otoritas kesehatan di Jalur Gaza mengatakan bahwa Minggu, 16 Mei 2021, adalah hari paling mematikan sejak Israel mulai melancarkan serangan udara pada Senin pekan kemarin. Lebih dari 40 orang tewas dalam serangan terbaru Israel di Gaza, beberapa di antaranya adalah anak-anak, perempuan dan juga dokter.

Militer Israel mengatakan kelompok Hamas telah menembakkan lebih dari 3.000 roket sejak sepekan terakhir.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengingatkan bahwa pertempuran kedua kubu dapat mendorong kawasan ke sebuah "krisis yang tak dapat dibendung."

Dalam pertemuan virtual DK PBB, Guterres menyerukan diakhirinya aksi kekerasan yang telah memicu siklus kematian dan kehancuran.

PBB juga mengingatkan bahwa minimnya bahan bakar di Gaza dapat membuat sejumlah rumah sakit dan fasilitas lainnya kehilangan aliran listrik.

Lynn Hastings, deputi koordinator khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, mengatakan kepada BBC bahwa dirinya telah meminta otoritas Israel untuk mengizinkan pengiriman bahan bakar dan pasokan lain. Namun Israel menolaknya dengan alasan keamanan.

Dikutip dari laman BBC pada Senin, 17 Mei 2021, serangan udara terbaru Israel di Gaza sepanjang hari Minggu kemarin telah menewaskan 42 orang, termasuk 16 perempuan dan 10 anak-anak.

Sementara di Israel, jumlah korban tewas serangan roket Hamas mencapai 10 orang, termasuk dua anak-anak.

Total kematian akibat serangan udara di Gaza kini mencapai 188 orang, termasuk 55 anak-anak dan 33 perempuan. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan udara Israel juga melukai sekitar 1.230 orang.

Kemenkes Gaza juga mencatat adanya satu dokter yang tewas dalam serangan udara Israel. Ia adalah Dr Ayman Abu Al-Quf, kepala obat-obatan internal dari rumah sakit Shifa.

Sebelumnya, serangan udara Israel sempat membentuk sebuah kawah besar yang menghalangi akses menuju rumah sakit Shifa.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait