LAMPUNG POST | lampost.co logo

STREAMING RADIO SAI 100 FM



LAMPUNG POST | Pil Pahit Impor Beras
Ilustrasi. (Foto: MI/PALCE AMALO)

Pil Pahit Impor Beras

INDONESIA dikenal sebagai negara agraria namun mirisnya tidak mampu menyuapi rakyatnya dari hasil produksi petani sendiri. Swasembada dan surplus produksi beras hingga kini baru sebatas jargon politik agar rakyat tenang namun minim realisasi.
Faktanya, sejak reformasi, swasembada pangan amat sering dilontarkan. Ia acap menjadi gincu pemanis kampanye untuk menarik simpati rakyat. Namun, waktu pula yang membuktikan. Penguasa silih berganti negara kita tetap saja impor beras.
Kenyataan Republik ini bergantung suplai pangan negara lain adalah hal yang amat sulit untuk dibantah. Beras, kedelai, jagung, bawang, gandum, gula, garam, dan bahkan singkong pun tidak dapat kita cukupi melalui produksi dalam negeri.
Paling anyar adalah kebijakan Pemerintah Pusat yang kembali mengimpor ribuan ton beras. Pemerintah tampak bergeming dengan rencana impor tersebut dengan dalih memperkuat cadangan beras agar harga komoditas tersebut stabil di masyarakat.
Lampung pun akan menerima impor beras 30 ribu ton yang masuk bertahap dari total jumlah beras yang diimpor ke Indonesia 260.550 ton. Tahap pertama direncanakan masuk Pelabuhan Panjang 5.500 ton dan diperkirakan akan datang pekan ini.
Amat wajar kabar kedatangan beras impor dari Thailand dan Vietnam itu membuat petani di Lampung tidak nyaman. Terlebih waktu tiba beras tersebut menjelang masa panen. Mereka tentu khawatir hal ini akan memukul harga gabah di tingkat petani.
Tidak hanya para petani, masyarakat Lampung pun tentu bertanya-tanya perihal kedatangan beras impor tersebut. Terlebih Lampung justru surplus beras pada November dan Desember 2017. Surplus 13.647 ton pada Desember dan November sebesar 86.839 ton.
Ditambah stok beras di Bulog Divre Lampung mencukupi hingga awal 2018 mencapai 30.314 ton. Dengan kondisi surplus, idealnya harga beras di Lampung terkendali. Namun nyatanya harga beras beberapa pekan lalu naik tidak terkendali.
Karena itu, kita berharap keberadaan beras impor di Lampung awal bulan ini benar-benar merupakan upaya Pemerintah Pusat mengamankan cadangan beras. Dengan pasokan tersebut, harapan harga beras ke depan lebih stabil menjadi lebih realistis.    
Bulog Divre Lampung juga telah berkali-kali menyatakan stok beras Lampung aman hingga Maret mendatang. Keberadaan beras impor itu pun bukan hanya cadangan beras untuk Lampung, melainkan juga menjadi cadangan untuk provinsi lain.
Masyarakat dan petani diimbau tidak cemas akibat kedatangan beras impor di Lampung karena Bulog akan terus menyerap beras petani sesuai dengan Inpres No.5/2015. Bulog akan menyerap beras petani lebih dahulu sebelum menggunakan beras cadangan.
Jujur kita katakan, keberadaan beras impor adalah pil pahit yang harus kita telan saat ini. Suka tidak suka, mau tidak mau pasokan beras dari negara lain itu harus kita terima agar cadangan beras aman dan stabilitas harga beras lebih terjamin.
Lebih baik mengimpor dan mengantisipasi kemungkinan terburuk ketimbang mengklaim surplus namun harga beras naik tanpa terkendali. Dengan mengimpor, paling tidak pemerintah telah bersikap jujur jika negara ini masih jauh dari swasembada beras.

 

 

LAMPUNG POST

BAGIKAN

Comments
TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv