LAMPUNG POST | lampost.co logo

STREAMING RADIO SAI 100 FM



LAMPUNG POST | Peran Media Meredam Konflik Pilkada
Ilustrasi. (Foto: sebarr.com)

Peran Media Meredam Konflik Pilkada

TAHUN 2018 merupakan tahun politik dan tahun olahraga. Tahun politik karena perhelatan dalam pilkada serentak yang meliputi 171 daerah pada 27 Juni. Dilanjutkan dengan pemilihan presiden dan calon legislatif. Ritual demokrasi untuk mencari pemimpin nasional, kepala daerah, dan wakil rakyat harus kita sambut dengan gembira. Peran media sebagai salah satu pilar demokrasi harus berperan dalam menyukseskan ritual politik ini.
Dampak negatif dari demokrasi harus dicegah untuk menghindari konflik berkepanjangan. Kita masih ingat efek yang terjadi dari Pilgub DKI tahun lalu. Isu SARA ikut mewarnai Pilkada DKI. Penggunaan simbol-simbol agama dalam pilkada mengancam keharmonisan kehidupan masyarakat. Jangan sampai pilkada serentak yang baru pertama kali di Indonesia ternoda kepentingan jangka pendek.
Jumlah penduduk kurang lebih 260 juta penduduk merupakan yang terbesar keempat didunia. Keberhasilan demokrasi kita akan menjadi acuan masyarakat dunia. Bisa dibayangkan kalau ritual demokrasi ini sampai bergejolak. Gejolak yang timbul dari pilkada serentak akan mencederai proses demokrasi itu sendiri.
Selain itu, sebagai negara berdaulat, kita juga tidak ingin kedaulatan kita terganggu karena tidak berjalannya sistem demokrasi. Menang atau kalah dalam demokrasi hal lumrah. Namun, terlibatnya banyak partai pendukung dengan latar belakang berbeda belum tentu bisa menerima kekalahan dari calon pemimpin yang mereka usung. Kita tidak ingin pilkada serentak menjadi medan konflik antaranak bangsa. Konflik tidak boleh dipandang sebagai hal yang tabu. Setiap konflik dan permasalahan yang timbul dalam pesta demokrasi harus dikelola dengan bijak.
Dalam konteks ini, bagaimana media mesti memosisikan diri sebagai penyeimbang untuk menjembatani setiap perbedaan pandangan dan ideologi politik? Bagaimana media berperan aktif dalam meredam gejolak yang timbul dari dampak pilkada serentak? Dengan demikian, tujuan utama berdemokrasi bisa terwujud.
Media sebagai Penyeimbang
Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden ke-45 AS menyisakan catatan khusus bagi rakyat AS. Pro-kontra kebijakan yang diambil Trump hampir setiap hari mewarnai berita-berita media AS. Perbedaan ideologi pendukung pascapilpres masih dibawa ke kehidupan sehari-hari. Ibaratnya, masyarakat AS belum move-on untuk bisa menerima Trump sebagai presiden. Hal ini menjadi tugas berat bagi Trump untuk mendiversifikasikan berita kepada masyarakatnya agar pihak yang masih memiliki perbedaan prinsip dan ideologi pascapilpres dapat mengerti.
Situasi ekonomi dan keadaan politik dipaparkan seimbang sehingga masyarakat AS dapat memahami keadaan secara utuh. Langkah Trump dalam mendiversifikasi peran media selain memberikan gambaran yang riil, juga dapat mencegah maraknya hoaks.
Penguasaan media di Indonesia dalam dekade terakhir ini oleh kelompok tertentu yang berafiliasi dengan parpol menciptakan pemberitaan tidak imbang. Peran media konvensional seperti radio, televisi, dan media cetak terbukti efektif untuk propaganda dan adu program. Para calon yang tidak memiliki media konvensional memilih media daring untuk memaparkan visi-misi.
Namun, pemberitaan yang berlebihan terhadap calon pemimpin tidak selamanya baik. Di era keterbukaan seperti sekarang ini, masyarakat sudah cerdas. Masyarakat sudah bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang benar. Pemberitaan yang over terhadap calon justru cenderung melahirkan pemimpin yang populis. Pemimpin yang populer belum tentu sesuai yang diharapkan rakyat. Pemimpin populer biasanya belum memiliki pengalaman dan fondasi kuat sebagai pemimpin.
Ibarat buah pisang yang belum waktunya masak dikarbit. Rasa buah pisang karbitan tidak seenak yang masak alami. Merasa dirinya sudah populer biasanya tidak memiliki pemikiran jangka panjang dalam memprediksi permasalahan ke depan. Mereka terjun ke politik dengan tujuan menjadi tenar semata. Peran regulator Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) harus konsisten menciptakan penyiaran yang sehat, bermanfaat, dan bermartabat. Iklim penyiaran yang sehat dan bermartabat harus diimplementasikan kepada masyarakat dalam menyongsong perhelatan politik nasional.
Dengan kewenangannya, KPI memiliki tugas mengawasi konten-konten kampanye para calon pemimpin yang berlaga. Iklan materi kampanye terselubung yang dibungkus acara kuis dan talkshow harus dicegah. Hal ini untuk menjaga netralitas media sehingga keseimbangan porsi akses terhadap media para calon kepala daerah tetap terjaga.
Kearifan Budaya Lokal
Terkait hal itu, Bawaslu memiliki peran strategis sebagai wasit. Politik uang dalam berkampanye harus ditindak tegas. Begitu pula calon yang mencuri start untuk kampanye dapat dikategorikan pelanggaran. Selain itu, peserta pilkada yang melakukan kampanye di luar jadwal kampanye menggunakan media dapat dikenai pasal politik uang dan bisa digugurkan keikutsetaannya.
Media dapat memanfaatkan budaya untuk mencegah terjadinya gejolak. Setiap daerah memiliki budaya yang berbeda dengan daerah lain. Dengan melibatkan kearifan budaya lokal dalam setiap liputan berita sedikit banyak akan mengurangi tensi politik di daerah.
Tahapan pilkada serentak bersamaan dengan kejuaraan dunia sepak bola yang berlangsung di Rusia pada 14 Juni—15 Juli. Walaupun RI belum ikut kejuaraan dunia sepak bola di Rusia, animo masyarakat sebagai penonton sepak bola dunia cukup signifikan. Momentum ini harus ditangkap sebagai sarana media untuk menyinergikan kegiatan dalam rangka meredam gejolak politik pada tahun politik.
Perhelatan pilkada dan pilpres dilanjutkan Asian Games 2018 dimulai 18 Agustus—2 September. Salah satu spirit olahraga ialah menjunjung sportivitas dalam berkompetisi. Olahraga yang sudah terbukti dapat menyatukan masyarakat. Kompetisi politik harus mencontoh kompetisi olahraga. Yang menang jangan besar kepala, sedangkan yang kalah harus rela menunggu lima tahun untuk perhelatan politik berikutnya.
Peran aktif media dalam menyatukan tugas jurnalistik secara seimbang, merangkul kearifan budaya lokal, dan memanfaatkan momentum olahraga merupakan langkah preventif untuk mencegah konflik horizontal di masyarakat dari ekses pilkada serentak. Tulisan ini merupakan ringkasan makalah yang dipaparkan dalam Hari Pers Nasional (HPN) di Padang pada 9 Februari 2018.

 

LAMPUNG POST

BAGIKAN

Comments
TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv