LAMPUNG POST | lampost.co logo

STREAMING RADIO SAI 100 FM



LAMPUNG POST | Melucuti Reklame Rokok
Ilustrasi. (Foto: greeners.co)

Melucuti Reklame Rokok

MASYARAKAT tentu sudah tidak asing dengan peringatan larangan merokok. Larangan ini dibuat mengingat kandungan zat kimia yang terdapat dalam rokok sangat berbahaya bagi kesehatan.
Karena itu pula, sejak beberapa tahun terakhir pemerintah berwacana menciptakan kawasan tanpa rokok (KTR). KTR merupakan area atau ruang publik yang terbebas dari paparan asap rokok.
Kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan atau mempromosikan rokok menjadi hal terlarang. Bahkan, beberapa pemerintah daerah pun telah membuat dan menerapkan peraturan KTR ini.
Di Lampung, beberapa kabupaten telah memiliki peraturan daerah (perda) dan menerapkan KTR. Beberapa daerah itu, antara lain Lampung Barat, Tulangbawang Barat, dan Lampung Tengah.
KTR diciptakan dengan latar belakang perilaku perokok aktif yang mulai mengkhawatirkan dan memberi risiko terhadap kesehatan diri sendiri dan orang di sekitarnya.
Namun KTA baru sebatas aturan. Iklan rokok pada baliho hingga videotron yang banyak tersebar di pusat kota, termasuk di Lampung, bertujuan menyasar remaja sebagai perokok pemula.  
Dalam lokakarya Yayasan Lentera Anak, di Jakarta, (29/1), disebutkan hasil pemantauan di 10 kota, termasuk Bandar Lampung terdapat 2.868 iklan, promosi, dan sponsor rokok.
Miris lagi melihat hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2013. Kebiasaan perokok di Lampung rata-rata di atas usia 10 tahun dan mencapai 26,5% dari total penduduk.
Harus jujur kita akui penerapan KTR di negara baru isapan jempol. Pemerintah berlaku setengah hati menjalankannya. Padahal, melindungi hak-hak generasi sekarang dan generasi mendatang atas kesehatan diri mereka adalah tugas pemerintah.
Sudah sewajarnya berbagai pihak, terutama pemerintah berwenang mengelola daerah, mulai meningkatkan kepeduliannya terhadap anak-anak melalui pelarangan iklan, promosi, dan sponsor produk rokok untuk menciptakan Kota Layak Anak pada 2030.
Pemerintah harus berani bersikap tegas demi kepentingan masa depan bangsa. Sekalipun uang yang masuk kas negara dari cukai rokok 10 tahun terakhir, sejak 2007, mencapai ratusan triliun. Tanpa ketegasan, KTA hanyalah sebatas pepesan kosong.
Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan tren sejak 2007 total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan bertambah hingga Rp145,53 triliun pada 2016. Nilai itu jauh lebih besar ketimbang pemasukan dari perusahaan sekelas PT Freeport.  
Namun, menciptakan generasi mendatang yang berkualitas sejalan UUD 1945 lebih penting dari sekadar materi. Aksi nyata mutlak diperlukan. Salah satunya berani melucuti reklame-reklame rokok agar daerah ramah anak dan bebas rokok nyata terwujud.

 

 

LAMPUNG POST

BAGIKAN

Comments
TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv