LAMPUNG POST | lampost.co logo

STREAMING RADIO SAI 100 FM



LAMPUNG POST | Lampu Kuning Nasib Petani
Ilustrasi. (Foto: ANTARA/Fikri Yusuf)

Lampu Kuning Nasib Petani

NEGERI berciri agraris ini tidak terlalu ramah kepada nasib petani. Sudah banyak kebijakan pertanian yang dikeluarkan pemerintah untuk menyejahterakan petani, tetapi penerapan di lapangan sering tersendat-sendat.
Contoh paling sederhana, pemerintah sudah membuat aturan tentang distribusi pupuk. Namun, pada saat musim tanam, bahan penyubur itu sering menghilang dari pasaran. Kalau mahal, petani masih bisa membeli, tetapi kalau tidak ada stok pupuk di pasaran yang sulit dicarikan solusinya.
Fakta terakhir, dalam dua bulan ini harga beras medium hampir secara merata naik hingga menyentuh Rp14 ribu/kg. Kenaikan harga beras itu memaksa pemerintah melakukan operasi pasar di sejumlah lokasi. Lonjakan harga beras itu pula yang memicu inflasi. Untuk angka nasional, inflasi Januari 2018 tercatat 0,62% dan beras menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan kontribusi 0,24%.
Sementara itu, pada bulan yang sama inflasi Bandar Lampung mencetak rekor tertinggi dari 82 kota di Tanah Air, yakni sebesar 1,42%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi di antaranya beras, tukang bukan mandor, cabai merah, bimbingan belajar, rokok keretek filter, rokok keretek, ayam goreng, mi, dan cabai rawit.
Pada periode yang sama, nilai tukar petani (NTP) Lampung justru turun. Jika pada Desember 2017 NTP Lampung tercatat sebesar 107,35%, pada Januari 2018 turun menjadi 105,98%. Meskipun tidak besar, penurunan NTP Lampung harus menjadi pertanda lampu kuning. Itu karena pada periode tersebut harga beras naik di hampir seluruh daerah.
Kenaikan harga beras seharusnya berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Anomali tersebut harus segera ditelusuri penyebabnya, apakah karena adanya penimbunan stok yang dilakukan para mafia beras. Atau karena adanya hambatan dalam distribusi komoditas dari petani ke konsumen.
Kemungkinan lain, selama ini ada kekeliruan data stok beras yang disajikan lembaga berwenang, baik karena disengaja maupun tidak disengaja. Di atas kertas, persediaan barang cukup untuk konsumsi, tetapi faktanya beras yang tersimpan di gudang tidaklah sebesar yang ada dalam catatan. Jika ada kesesuaian data dan fakta, seharusnya pemerintah tidak perlu mengimpor beras.
Tren inflasi dan NTP pada Januari 2018 semestinya dijadikan pelajaran penting bagi pemerintah untuk lebih serius meningkatkan kesejahteraan petani. Negeri agraris yang subur ini seharusnya bisa menjadi surga bagi para petani.


 

LAMPUNG POST

BAGIKAN

Comments
TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv